Minggu, 27 Januari 2019

Contoh Ceramah Singkat Tentang Menyingkap Makna Musibah

Contoh Ceramah Singkat – Ceramah atau pidato keagamaan adalah ceramah yang dilakukan oleh ahli agama atau biasa disebut ustad yang notabennya mempunyai ilmu agama lebih dan dibagikan kepada orang lain dengan tujuan agar banyak yang paham dan mengerti ilmu agama tersebut.

Nasihat menasihati merupakan kewajiban bagi setiap muslim atas muslim yang lainnya. Seorang muslim wajib mengingatkan saudaranya agar mengerjakan kebaikan dan menjauhi segala macam bentuk kemaksiatan.Salah satu bentuk nasihat menasihati antara sesama muslim ialah dengan menyampaikan kultum singakat atau ceramah singkat untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan yang tercela.


Berikut ini adalah contoh ceramah singkat. Mulai dari contoh ceramah pendidikan, contoh ceramah singkat sabar, contoh ceramah tentang ibu, contoh ceramah pergaulan bebas, contoh ceramah menuntut ilmu, contoh ceramah singkat tentang narkoba, contoh ceramah kebersihan, contoh ceramah  kesehatan, contoh ceramah media sosial, contoh ceramah, contoh ceramah tentang aurat, contoh ceramah tentang berbakti kepada orang tua, kumpulan teks ceramah, ,ceramah singkat tentang sedekah, teks ceramah agama, ceramah singkat tentang ilmu, ceramah tentang pendidikan, contoh ceramah umum, contoh teks ceramah umum  , dll.


Ceramah Yang Sering Di Cari:



Contoh Ceramahnya



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
 Yang saya hormati teman-teman dan hadirin semua. Marilah kita bersama – sama panjatkan puja, puji, dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam karena atas berkah, rahmat dan hidayahnya kita semua dapat berkumpul di tepat yang Insya Allah mulia ini Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan ke pada junjungan kita – manusia terbaik sepanjang zaman yakni besar Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya. Semoga kita semua kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin.

Hadirin Rahimakumullah
 Siapa yang tidak pernah mengalami musibah dalam sepanjang hidupnya? Hmm, rasanya tidak ada satupun manusia yang tidak pernah mengalami musibah dalam kehidupannya. Lalu sebenarnya apa makna dibalik musibah yang terjadi?
Saudaraku, dikatakan bahwa apabila suatu musibah menimpa seseorang atau suatu kaum, pastilah musibah itu merupakan salah satu dari empat kemungkinan berikut:

 Yang pertama adalah sebagai ujian atas prestasi iman. Artinya, melalui ujian tersebut manusia akan mengalami peningkatan derajat atau kedudukan di sisi Allah Swt. Diriwayatkan bahwa Sa’d ibn Abi Waqash bertanya,’’ Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya? Rasulullah Saw. pun menjawab: Orang yang paling berat ujian dan cobaannya adalah para nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, kemudian yang setingkat dengan mereka. Seseorang diuji atas kadar agamanya. Kalau agamanya lemah, dia diuji sesuai denga itu. Dan kalau kadar agamanya kukuh, dia pun diuji sesuai dengan itu. Seseorang diuji terus menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosanya.’’ (HR. Al-Bukhari)
Makna musibah yang kedua adalah sebagai sarana untuk mengukur kebenaran iman. Allah Swt. Berfirman,’’ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan:’ kami telah beriman; sedangkan mereka tidak di uji? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

 Dalam hadits pun dikatakan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: Allah menguji hambanya dengan menimpakan musibah sebagaimana seseorang menguji kemurnian emas. Ada yang keluar menjadi emas murni, dan itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada yang keluar menjadi emas kurang bermutu, dan itulah orang-orang yang selalu ragu. Dan ada yang kelur menjadi emas hitam, dan itulah orang-orang yang memang ditimpa musibah.’’ (HR. Al-Thabarani)
Makna musibah yang ketiga adalah sebagai penghapus dosa dan kesalahan.
 Rasulullah Saw. Bersabda,’’ Tiada seorang Mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit, atau kesusahan hingga duri yang melukai tubuhnya, kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.’’ (HR. Al-Bukhari)
Makna musibah yang keempat adalah siksaan atas kemaksiatan dan kekufuran agar menjadi jera. Allah Swt. Berfirman,’’ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (QS. Al-Rum: 41)

Hadirin Rahimakumullah
Dari setiap makna musibah yang telah dipaparkan, kita tahu bahwa tidak ada sedikit pun maksud buruk Allah ketika Ia memberikan ujian dengan menimpakan musibah kepada kita. Tak dapat dipungkiri bahwa sering kali kita berprasangka buruk, mengeluh atau bahkan menyalahkan Tuhan terhadap setiap kejadian yang tidak mengenakan yang terjadi dalam kehidupan kita. Padahal tidak ada tujuan buruk pun dari setiap musibah yang terjadi yang ada hanyalah agar kita menjadi lebih bertakwa dan bergantung kepada-Nya.

Saudaraku, betapa banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap peristiwa kehidupan baik yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Namun, dalam hemat saya - kesulitan adalah media terbaik manusia untuk belajar. Manusia akan lebih cenderung mudah mengungat Allah dalam keadaan sulit ketimbang keadaan yang berlimpah dengan kemudahan. Bukankah begitu?
 Tak dapat dipungkiri musiabah atau persoalan hidup yang sarat dengan keadaan sulit dapat membuka mata manusia terhadap setiap hikmah dan pelajaran yang sebelumnya tidak tersingkap. Maka beruntunglah orang-orang yang dapat mengambil pelajaran atau hikmah terhadap setiap persoalan hidup dan musibah yang terjadi padanya. Karenanya, ia akan semakin dewasa dengan kebijaksanaan dari setiap masalah atau persoalan yang dilaluinya.

Barang kali demikianlah yang dapat saya sampaikan, sungguh yang menyampaikan tidak lebih baik dari yang mendengarkan. Akhir kata semoga bermanfaat dan mohon maaf terhadap setiap kesalahan dan kekurangan ketika penceramahan ini berlangsung.
Billahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh