Selasa, 13 November 2018

Pidato Islami Singkat Tentang Ikhlas

Pengertian Pidato

Contoh Pidato Terbaru - Pidato merupakan suatu kegiatan berbicara di depan khalayak ramai atau berorasi dalam menyatakan pendapatnya, atau memberikan suatu gambaran mengenai suatu hal. Biasanya pidato dibawakan oleh seorang yang memberikan orasi serta pernyataan tentang hal-hal atau peristiwa penting dan juga patut untuk diperbincangkan. Pidato biasanya digunakan oleh seorang pemimpin guna memimpin dan berorasi di depan khalayak ramai atau anak buahnya.

Pidato merupakan suatu ucapan yang memiliki susunan yang baik guna disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato penting seperti pidato kenegaraan, pidato dalam menyambut hari besar, pidato untuk membangkitkan semangat, dan lain sebagainya.

Pidato yang baik adalah suatu pidato dapat memberikan kesan positif bagi orang-orang banyak yang mendengarkan pidato yang disampaikan tersebut. Kemampuan dalam berpidato atau berbicara di depan publik dapat membantu dalam meraih jenjang karir yang baik.
Berpidato merupakan salah satu wujud dalam kegiatan berbahasa lisan. Oleh karena itu itu, berpidato mementingkan ekspresi gagasan serta penalaran dengan memakai bahasa lisan yang didukung aspek nonbahasa, seperti ekspresi wajah, pelafalan, kontak pandang, dan intonasi suara. Pidato yang baik memerlukan beberapa kriteria. Berikut kriteria dalam berpidato. ( Kumpulan Contoh Pidato )

Kriteria Berpidato
  • Isi pidato yang akan disampaikan memiliki kesesuaian dengan kegiatan atau acara yang berlangsung.
  • Isinya bersifat menggugah serta dapat bermanfaat bagi para pendengar pidato tersebut.
  • Isi pidatonya tidak menimbulkan pertentangan.
  • Isinya benar, objektif, dan jelas.
  • Bahasa yang dipakai dapat dengan mudah dipahami pendengar.
  • Bahasanya disampaikan dengan santun, bersahabat, dan rendah hati.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami akan menyampaikan beberapa materi khusus yang berhubungan dengan pidato; tidak lupa pula kami juga akan memberikan berbagai macam contoh teks naskah pidato sehingga keduanya (baik teori dan praktek) pidato kita bisa semakin baik lagi.

Memang harus kita akui, kemampuan berpidato sangatlah tidak mudah dipelajari, kita butuh berbagai teori yang memadai, tidak hanya itu, kita juga dituntut untuk latihan secara konsisten sehingga nanti kita bisa menyampaikan pidato dengan lebih baik lagi. Oleh karena itu, kami sengaja mengumpulkannya dengan harapan para sahabat bisa lebih mudah dan praktis dalam mempelajari teori dan contoh pidato.Banyak sekali contoh Pidato dari pidato bahasa inggris , pidato tentang narkoba,pidato bahasa indonesia,pidato kemerdekaan, pidato tentang kebersihan, pidato jokowi, pidato perpisahan, pidato Tentang Guru,pidato agama islam,pidato globalisasi dan Lainnya.

Contoh Pidato

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh



الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد
Ikhlas adalah perintah Allah Swt dan salah satu syarat diterimanya setiap amal. :
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
“Tidaklah mereka (manusia) diperintahkan selain agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepadaNya seluruh aspek pengamalan agama ini”. Q.S. Al- Bayyinah : 5
Ikhlas secara bahasa berarti kesucian. Dan ulama mendefinisikannya dengan:
“Kesucian hati dari keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari satu amal, selain ridha Allah Swt”.
Jadi ikhlas itu adalah niat, keinginan, tujuan, harapan, untuk mendapatkan ridha Allah semata pada setiap amal ibadah kita. Maka ia harus dihadirkan di dalam hati kita pada setiap amal ibadah kita.
Bila kita tidak menghadirkannya, maka kita tidak berniat, pada saat itu kita lalai. Marilah kita mengingat dan merenungkan masalah ini :
“Benarkah kita selalu berusaha menghadirkan niat ikhlas setiap kali kita akan shalat ?”. “Benarkah kita selalu menghadirkan niat ikhlas setiap kali kita akan bersedekah ?”.
“Benarkah kita selalu berniat ikhlas setiap kali kita akan membaca Al-Qur’an ? Menghadiri pengajian ? Mencari nafkah ?”.
Dari rendahnya tingkat efektifitas/ keberhasilan/ keberkahan amal ibadah kita secara umum, dapat kita pahami bahwa salah satu kekurangan kita dalam amal ibadah selama ini ialah bahwa kita tidak menghadirkan niat ikhlas itu.
Sekiranya kita selalu menghadirkan niat ikhlas setiap akan shalat, niscaya ibadah shalat kita akan lebih berhasil mendidik kita untuk menjauhi maksiat. Ibadah kita akan lebih berkah sehingga kita lebih bahagia dengan ibadah.
Sesungguhnya perintah peneguhan niat ikhlas di hati ini, kita pahami dari firman Allah swt :
قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْ تُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“Katakanlah : “Sesungguhnya shalatku, seluruh ibadahku/ sembelihanku, seluruh aktifitas kehidupanku, dan penyebab kematianku, kupersembahkan hanya untuk Allah, Tuhan alam semesta. Tidak ada sekutu bagiNya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang pertama yang menyerahkan diri kepada Allah”.
QS. Al-An’am : 162-163
Ayat yang mulia ini menjelaskan perintah untuk menegaskan bahwa ibadah shalat dan seluruh bentuk ibadah, hidup dan mati, jiwa dan raga, kita persembahkan hanya kepada Allah semata. Karena kita hanya mencari ridha Allah. Tak ada duaNya !.
Sesungguhnya inilah salah satu dasar pengamalan sebagian saudara kita pengikut madzhab Imam Syafi’i untuk membaca lafazh “Ushalli” setiap kali akan Takbiratul Ihram, baik pada shalat wajib, maupun pada shalat sunnah.
Tujuan mereka ialah, untuk meneguhkan niat ikhlas di hati. Masalahnya ialah, lafazh-lafazh “Ushalli” itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Lafazh-lafazh itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw, bahkan tidak pula dicontohkan oleh para sahabat beliau.
Kita yang tidak membaca Lafazh “Ushalli” seringkali melakukan kesalahan, karena tidak berniat ikhlas. Kita hanya berniat mau shalat, tapi tidak berniat mau mendapatkan ridha Allah !. Ini Adalah kelalaian. Ini adalah kesalahan. Karena setiap amal itu, dinilai dari niatnya. Rasulullah Saw bersabda :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang diniatkan”. Muttafaq Alaih.

Kiat Kiat Ikhlas

1. Ucapkan dalam hati : “Saya melakukan amal ini untuk mendapatkan ridha Allah semata.”. Atau “Saya mengharapkan ridha Allah semata”.
Ungkapan ini hanya diucapkan dalam hati, karena ikhlas itu adalah ibadah hati. Tidak diucapkan dengan lisan. Karena tidak ada contohnya dari Nabi Saw.
2. Melakukan renungan pada urgensi ridha Allah Swt dalam hidup ini.Yaitu dengan membayangkan betapa bahagianya hidup kita jika kita diridhai oleh Allah Swt. Bangunlah keyakinan bahwa hidup kita akan susah dan sengsara, jika Allah murka kepada kita. Naudzubillah.
Renungan seperti ini sangat penting untuk kita lakukan, agar tertanam kuat dalam kepribadian kita betapa besar peranan ridha Allah dalam hidup ini. Dan bahkan, hidup ini tidak bermakna dan tidak bernilai jika tanpa ridha Allah.
Allah Swt berfirman :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ، فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا، وَنَحْشُرُه ُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Siapa yang berpaling dari peringatanku, niscaya dia pasti mendapatkan penghidupan yang sempit, dan kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Surah Thaha : 124
Semakin sering kita melakukan renungan pada urgensi ridha Allah, niscaya semakin kuat dorongan untuk mendapatkan ridha Allah, dan itulah ikhlas.
Dan keinginan itulah yang memotivasi kita untuk meningkatkan ibadah, untuk semakin taat kepada Allah, semakin kuat menjauhi dosa. Karena dosa itu mengundang murka Allah. Dan jika kita semakin ikhlas, maka kita semakin takut berbuat dosa.
3. Menumbuhkan dan memperkuat kerinduan kepada syurga.
Yaitu dengan melakukan renungan pada kebenaran, kenikmatan dan keabadian Syurga untuk orang-orang yang dirahmati oleh Allah Swt.
Renungan seperti ini sangat penting untuk memperkuat niat ikhlas dan memotivasi kita untuk semakin taat kepada Allah Swt. Oleh karena Allah Swt menjelaskan dalam al-Qur’an kebenaran, kenikmatan dan keabadian Syurga secara rinci, tujuanNya ialah untuk memotivasi secara kuat agar kita memperbaiki dan memperbanyak amal untuk mendapatkan Syurga. Dan kita diajar oleh Rasulullah saw untuk berdo’a secara rutin, memohon Syurga:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu ridhaMu dan Syurga, dan aku berlindung kepadaMu dari murkaMu dan Neraka”.
Jadi kenginan untuk masuk Syurga itu tidak bertentangan dengan keikhlasan. Tidak sama dengan pendapat sebagian ahli tasawuf bahwa beramal untuk masuk Syurga itu tidak ikhlas. Tidak demikian !. Oleh karena keinginan untuk masuk Syurga itu adalah tanda iman. Kerinduan pada Syurga itu diajarkan oleh Allah dan RasulNya. Allah swt berfirman:
وَسَا رِعُوْ ا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari TuhanMu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disiapkan untuk orang-orang yang bertaqwa “. Surah Ali Imran : 133
Dan dalam do’a di atas, Rasulullah Saw menggandengkan kata ridha dengan Syurga :
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةِ
Ini berarti bahwa keduanya tidak kontradiktif, tidak bertentangan, bahkan sejalan. Karena mustahil Allah Swt meridhai seorang hambaNya lalu tidak dimasukkan ke Syurga, dan mustahil seseorang dimasukkan ke Syurga jika Allah tidak ridha kepadanya.

Kesimpulan

Hidupkanlah kerinduan untuk masuk Syurga. Perbanyaklah membayangkan Syurga. Karena salah satu kelalaian kita, jika dalam sehari semalam kita tidak pernah mengingat Syurga !.
Syurga adalah cita-cita tertinggi kita.
Syurga adalah tempat terakhir kita, yang abadi
Syurga tujuan seluruh amal ibadah kita.
Syurga lebih kita utamakan dari segalanya.
Demikianlah kita berniat ikhlas. Itulah tiga kiat untuk ikhlas dan semakin ikhlas. Mari kita amalkan kiat ini, dengan penuh kesungguhan, lalu fastaqim (Beristiqamahlah) !


Oleh: Mudzakkir M. Arif, MA